Archive for May, 2007

urgensitas senator HMF

Thursday, May 10th, 2007

Urgensitas Senator HMF

bak 1 tetes indikator fenoftalein

dalam titrasi asam basa

Terlepas dari persoalan apapun tentang senator yang selalu dibilang negarawan namun tidak pernah turun ke”bawah”, keberadaan senator sangatlah penting untuk HMF. Sekilas memang tidak tampak sebuah kepentingan yang ingin diperjuangkan dari lembaga “Ars Praeparandi” ini. Akan tetapi, ada sebuah hal yang juga layak untuk diperhatikan. Menurut Senator Farmasi periode 2005/2006, Sumintir,  kepentingan tersebut adalah memperjuangkan kemahasiswaan ITB.

Kongres merupakan sebuah badan yang merupakan sebuah wadah perwakilan dari setiap himpunan dan unit yang merupakan basis massa dari ITB. Oleh karenanya, secara umum, kedudukan senator sebenarnya lebih tinggi dibandingkan Ketua Himpunan dan Ketua Unit. Kenapa? Karena Kongres merupakan wadah tertinggi akibat kata ‘perwakilan’ ini.

Kongres memiliki tugas utama sebagai pengawas dan pengarah jalannya kabinet yang berkuasa di KM ITB. Sebagai contoh, saat ada program kerja yang diajukan oleh Kabinet, maka tugas Kongres adalah menilai proker tersebut. Apakah ‘layak jalan’, atau tidak. Bila dinilai ‘layak jalan’, maka Kongres akan menilai kinerja kabinet selama perjalanan proker tersebut.

Melihatt fungsinya sebagai pengawas, pengarah, dan pemegang kekuasaan tertinggi pada struktur kabinet KM ITB, tentunya Kongres adalah penting. Oleh karena itu, mengirim senator sebagai salah satu anggota Kongres juga penting. Walaupun tidak ada agenda yang ingin diperjuangkan dari HMF, TIDAK mengirim senator tidak akan lebih baik daripada mengirim perwakilan di Kongres sebagai senator.

1 tetes pun berharga….                                           

kemahasiswaan ITB

Thursday, May 10th, 2007

TEMA: Kemahasiswaan ITB

Analisis Situasi Kampus                                                        Devandra Alferi (10705003)

Kemahasiswaan seringkali didefinisikan sebagai segala kegiatan yang berkaitan dengan mahasiswa. Mengadakan kegiatan kampus, belajar, dan berorganisasi adalah beberapa contoh kemahasiswaan. ITB sebagai kampus juga berarti melaksanakan kemahasiswaan ini. Salah satu tandanya adalah adanya organisasi-organisasi kemahasiswaan di ITB, seperti kabinet KM ITB, Kongres KM ITB, himpunan, dan unit. Seluruh organisasi ini menjadi satu dalam satu wadah, wadah KM ITB.

Masing-masing organisasi kemahasiswaan ini mempunyai karakter yang berbeda- beda. Bila diperhatikan, perbedaaan karakter ini dapat terlihat jelas di himpunan-himpunan. Karakter yang berbeda ini kemudian melahirkan pula pemikiran-pemikiran yang berbeda pula. Ada yang kritis, ada yang adem ayem, ada yang acuh, apatis, dan sebagainya. Hal yang menjadi masalah adalah ketika himpunan-himpunan yang bersikap kritis, kadang-kadang menjadi krisis. Dengan pemikiran-pemikirannya yang memang kritis (tapi kejauhan, jadi krisis), himpunan-himpunan ini cenderung untuk menarik diri dan menolak keterlibatan diri mereka dalam kemahasiswaan terpusat. Padahal himpunan sendiri merupakan basis massa dari kemahasiswaan terpusat, sehingga  mau tidak mau secara langsung ataupun tidak langsung dirinya adalah bagian dari kemahasiswaan terpusat.

Tidak jauh berbeda dengan himpunan, unit-unit kemahasiswaan di ITB pun memiliki sifat-sifat yang berbeda. Hal ini disebabkan karena di ITB ada beberapa rumpun unit yang berlatar belakang beda. Secara garis besar, ada empat rumpun kemahasiswaan unit, yaitu rumpun agama, rumpun olahraga, rumpun kesenian, dan rumpun kajian. Dikarenakan rumpun yang berbeda ini, maka unit-unit ini memiliki kepentingan-kepentingan yang berbeda. Kepentingan-kepentingan ini seringkali hanya berkaitan dengan intern unit itu sendiri, sehingga seakan-akan timbul ego dalam diri unit tersebut . Bahkan ada beberapa unit seakan-seakan bersikap acuh sama sekali terhadap keberadaan kemahasiswaan terpusat. Hal ini terlihat dari keberadaan BKSK yang tidak berjalan dengan efektif. Padahal BKSK dapat menjadi wadah penyalur aspirasi dari teman-teman unit terhadap kemahasiswaan terpusat.

Selain unit dan himpunan yang sepertinya kurang respek terhadap kemahasiswaan terpusat, permasalahan lainnya adalah kurang representatifnya badan legislatif di KM ITB, yaitu Kongres. Permasalahan representatif ini sebenarnya berkaitan erat dengan permasalahan di basis-basis massa sendiri, yaitu permasalahan himpunan. Bagaimana mungkin badan Kongres akan representatif bila banyak himpunan bersikap tidak peduli terhadap kemahasiswaan terpusat.

Tidak cukup dengan permasalahan-permasalahan internal KM ITB sendiri, sekarang bahkan muncul tekanan-tekanan dari “ayah-ayah” kita di pihak rektorat. Pelarangan kegiatan kemahasiswaan, aliran dana kemahasiswaan yang seret dan tidak transparan menjadi bukti bahwa pihak rektorat tidak menyokong dan tidak mendukung kemahasiswaan kita. Mungkin “menjadi robot” tanpa soft skill adalah kata-kata yang tepat untuk mahasiswa versi rektorat. “Robot” yang nanti akan menjadi kuli-kuli pekerja bagi negara-negara asing.

Permasalahan-permasalahan ini tidak akan pernah terselesaikan bila kita terus berkutat dengan permasalahan internal kita sendiri. Lama kelamaan kita akan digilas oleh kegiatan-kegiatan “kerektoratan”. Permasalahan internal tidak akan terselesaikan bila orang-orang yang berkecimpung di kemahasiswaan ITB sendiri tidak punya satu visi yang sama tentang kemahasiswaan. Dengan visi yang sama, diharapkan bahwa tidak akan lagi timbul penolakan-penolakan dan sikap anti kemahasiswaan terpusat. Perlu adanya penyamaan visi tentang kemahasiswaan dari organisasi-organisasi kemahasiswaan itu sendiri. Penyamaan visi ini cukuplah dari tampuk-tampuk pimpinannya saja, dengan harapan massa di organisasinya akan mengikuti. Tanpa adanya penyamaan visi ini, kemahasiswaan (ucapan klise) tidak akan pernah ke arah yang lebih baik.

“merdeka atau mati” kontemporer

Thursday, May 10th, 2007

TEMA: Kondisi Bangsa Saat Ini

Indonesiaku Kontemporer                                  Devandra Alferi (10705003)

Saat pejuang-pejuang bangsa ini meneriakkan “MERDEKA atau MATI!!” di zamannya, apakah pernah terpikir di benak mereka bahwa generasi-generasi penerusnya seperti kita dapat melanjutkan perjuangannya dulu?

Terpuruk. Satu kata yang mungkin dapat menggambarkan dan mendeskripsikan keseluruhan keadaan Indonesia saat ini. Flu burung kembali merajalela, kasus buruk penerbangan “murah” di tanah air ini, lumpur Sidoarjo, kekalahan timnas Indonesia di ajang persepakbolaaan, tingkat kriminalitas terus meningkat, proses pelegalan korupsi dengan mengesahkan UU no 37 tahun 2006 yang menambah gaji anggota DPRD, dan kasus penipuan makanan dan obat yang beredar di pasaran hanyalah beberapa contoh dari keterpurukan bangsa ini. Semua seakan berlalu begitu saja tanpa ada perbuatan banyak dari diri kita sebagai bagian dari bangsa ini. Bangsa ini seakan terlalu sibuk terhadap permasalahan-permasalahan. Ketika muncul satu isu besar, maka kita akan sibuk mengurusi masalah itu dengan melupakan permasalahan kita lainnya. Lalu saat masalah lainnya muncul, kita akan mengalihkan pandangan kita ke permasalahan baru ini. Terus, dan berputar seperti itu. Jadi saat satu masalah belum selesai dengan tuntas, kita disibukkan lagi dengan permasalahan lainnya. Kalau seperti ini terus, kapankah bangsa ini akan bisa meningkatkan daya saingnya di mata dunia? Penulis pernah berdiskusi dengan seorang teman mengenai permasalahan mengapa di Indonesia sedikit sekali masyarakatnya menuntut hak paten, sementara di Amerika tiap harinya kantor paten sangat sibuk mengurusi produk-produk baru. Salah satu hasil diskusi kami adalah permasalahan yang terus berputar tadi. Saat Amerika sibuk mengembangkan hal-hal baru, Indonesia sibuk dengan masalah-masalah internal tanpa solusi nyata yang tak kunjung selesai. 

Pertanyaan lanjutan yang mungkin muncul di setiap insan Indonesia adalah “Akankah Indonesia siap dengan era globalisasi nantinya?” “Akankah Indonesia dapat bertahan di tengah arus globalisasi ini?” Masalahnya, saat Indonesia belum mampu meningkatkan daya saingnya saat globalisasi nanti, maka Indonesia hanya dapat menjadi kuli-kuli bagi negara lain. Hanya menjadi penonton bagi keterpurukan terus bangsa ini. Contoh nyata dalam kasus ini adalah tentang Exxon Mobile. Sebuah contoh penipuan tingkat tinggi terhadap masyarakat Indonesia. Sebuah penipuan yang dikemas dengan rapi dan tanpa cacat di mata hukum. Kasus-kasus seperti inilah yang mungkin dapat saja semakin sering terjadi menerpa Indonesia di kemudian hari.

Kemudian salah siapakah ini? Pemerintah? Apakah kita tidak juga turut salah, salah memilih Presiden. Silakan tanya pada rakyat Indonesia: “Mengapa dulu Anda memilih Presiden yang pintar menyanyi?” Sebagian dari rakyat Indonesia mungkin tak akan dapat menjawab hal ini. Masyarakat Indonesia mudah ditipu. Masyarakat Indonesia nampak belum tecerdaskan dengan memilih Presiden yang tampan, gagah, dan pintar menyanyi saja, bukan memilih Presiden yang benar-benar kompeten.

Kemudian apa yang harus kita lakukan? Penulis sependapat dengan seorang tokoh, yang juga alumnus ITB, yang mengatakan bahwa sebenarnya apa yang terjadi dalam bangsa ini biasa-biasa saja. Hal yang menjadi penting adalah bagaimana kita dapat menyikapi dengan bijak. Menyikapi permasalahan ini dengan cara berbuat yang terbaik; terbaik bagi diri kita, dan lebih lagi terbaik bagi bangsa ini. Sebuah solusi yang bersifat buttom up, bukan sistem top down. Bagi penulis sendiri nampaknya pemahaman seperti inilah yang dibutuhkan kita sebagai bagian dari bangsa ini. Menjadi bagian dari solusi itu sendiri. Berbuat terbaik sebenarnya sangatlah mudah. Kita tidak perlu menyalahkan siapa-siapa, bukan salah pemerintah, bukan salah orang lain. Hilangkan pikiran buruk kita terhadap orang lain, dan just do our best! Bila kita ingat, bunda Marwah pernah berkata dalam bukunya MHMMD, bahwa sukses bangsa adalah akumulasi dari sukses individu.

Medical record

Thursday, May 10th, 2007

Keperluan Riwayat Kesehatan untuk Identifikasi Korban

“Beberapa waktu yang lalu tim forensik Australia mempermasalahkan hasil identifikasi tim forensik Indonesia mengenai korban pesawat Garuda. Permasalahan ini timbul karena tim forensik Australia tidak percaya begitu saja pada Indonesia. Namun, ketidakpercayaan itu berakhir ketika Australia berhasil mendapatkan medical record dari para korban tersebut”

Medical record adalah suatu sistem pencatatan riwayat kesehatan yang sangat berguna dalam dunia kesehatan. Fungsinya antara lain untuk memudahkan pasien bila hendak berganti dokter. Contoh kasusnya adalah seperti ini. Ketika si A yang berdomisili di Bandung mendadak sakit di kota lain, maka dia otomatis mendatangi dokter. Dokter ini tentunya dokter yang berbeda dengan dokter yang biasa didatanginya ketika sakit. Ini permasalahannya. Dokter di Bali ini belum tentu tahu catatan sakit apa saja yang pernah dialami si A. Hal yang dapat menimbulkan permasalahan lain adalah bisa saja data alergi obat tidak diketahui oleh di dokter baru ini. Selain fungsi tersebut, medical record juga kadang diperlukan untuk keperluan identifikasi seperti yang dilakukan oleh tim forensik Australia. Di dalam medical record juga ada data-data tambahan lain yang akurat dan memang dapat digunakan untuk identifikasi korban.    

Indonesia memang belum menerapkan sistem medical record dengan sempurna. Masih banyak rumah sakit-rumah sakit maupun tempat-tempat praktek dokter yang menggunakan “kertas konvensional” dalam pencatatan data pasiennya. Data-data ini umumnya hanya menjadi data pribadi sang dokter saja. Kalaupun ada rumah sakit yang menerapkan medical record, biasanya hanya rumah sakit-rumah sakit internasional saja.

Salah satu akibat dari penerapan sistem medical record yang belum sempurna ini adalah kesulitan dalam menetapkan keakuratan dalam identifikasi korban. Hal yang dilakukan pemerintah Australia sudahlah benar. Dengan menunggu medical record, maka dapat benar-benar dipastikan identitas dari korban yang meninggal tersebut.

Sistem ini seharusnya sudah dapat dilaksanakan dengan baik di Indonesia. Dengan begitu proses identifikasi korban-korban dapat dilakukan dengan segera berdasarkan medical record dari korban. Apalagi mengingat akhir-akhir ini banyak sekali bencana yang melanda Indonesia dan menimbulkan korban yang tidak sedikit. Selain itu, permasalahan dengan Australia dapat dihindari dengan adanya penerapan sistem medical record lintas negara. Dengan otoritas khusus, Indonesia dapat masuk ke dalam sistem medical record negara lain. Cara seperti ini juga bisa mempercepat proses identifikasi untuk korban yang merupakan warga asing.

DEVANDRA ALFERI

Mahasiswa Jurusan Sains dan Teknologi FARMASI

Institut Teknologi Bandung

   

aktivis?akademis?borjuis?

Thursday, May 10th, 2007

Devan, 19 tahun, Institut Teknologi Bandung

“Kalo menurut kacamata gue, kuliah seringkali diartiin sempit. Masuk ke kelas, dengerin dosen, pulang, tidur, belajar, ujian, terus IP tinggi, masih sering diartiin kalo itu kuliah. Masalahnya kalo lulus kan mau masuk ke dunia kerja, nah, IP aja kaga cukup untuk menjamin kita bakalan diterima di perusahaan itu. Pasti perusahaan juga ngeliat, kalo IP gede tapi ga bisa kerjasama ama orang, ato IP gede tapi ga bisa komunikasi publik dengan baik, pasti juga bakalan di-reject. Nah, permasalahannya, pelajaran ‘komunikasi publik’ (kecuali mahasiswa Fikom dan temen-temen di Fakultas Komunikasi lainnya) dan juga pelajaran ‘kemampuan kerjasama ama tim’ kurang kita dapetin kalo kita hanya kuliah aja. Dengerin dosen, atau paling beruntung praktek dikit-dikit, tapi belum tentu juga optimal.

Laboratorium soft skill yang paling mantep menurut gue bisa diraih lewat berperan menjadi aktivis kampus. Jadi, untuk menjadi seorang aktivis kampus menurut gue lebih buat nyari soft skill nya, ga cuma nambah temen dan memperluas ‘jaringan’. Ato bahkan untung-untung lewat peran kita sebagai aktivis kampus kita bisa berkontribusi lebih buat masyarakat. Jadi, dengan niat yang bae, dengan niat untuk mencari pembelajaran lebih, gue rasa yang namanya networking akan kebangun dengan sendirinya; seiring dengan aktivitas yang dijalanin.

Tapi juga perlu diinget kalo namanya IP tetep aja penting. Sekarang jamannya perang informasi. Orang udah bisa dapet informasi yang sama dalam waktu yang sama. Yang menang adalah orang dengan knowledge yang lebih dan bisa manfaatin knowledge-nya itu buat menyikapi informasi yang dia dapet. So, akademis juga penting menurut gue.

Tapi itu juga balik ama hati temen-temen. Terserah mau jadi aktivis yang merhatiin akademis ato tetep jadi akademisi yang kaga mau berkecimpung sebagai aktivis. Tapi kalo gue milih, gue lebih suka jadi aktivis kampus tapi juga masih merhatiin akademis gue. Selain jaman perang informasi yang gue jelasin, kita juga masih punya tanggung jawab ama orang tua, dan tanggung jawab ama Yang Di Atas. Soft skill dapet, network dapet, tanggung jawab dapet. Amiinn.”