TEMA: Kemahasiswaan ITB
Analisis Situasi Kampus Devandra Alferi (10705003)
Kemahasiswaan seringkali didefinisikan sebagai segala kegiatan yang berkaitan dengan mahasiswa. Mengadakan kegiatan kampus, belajar, dan berorganisasi adalah beberapa contoh kemahasiswaan. ITB sebagai kampus juga berarti melaksanakan kemahasiswaan ini. Salah satu tandanya adalah adanya organisasi-organisasi kemahasiswaan di ITB, seperti kabinet KM ITB, Kongres KM ITB, himpunan, dan unit. Seluruh organisasi ini menjadi satu dalam satu wadah, wadah KM ITB.
Masing-masing organisasi kemahasiswaan ini mempunyai karakter yang berbeda- beda. Bila diperhatikan, perbedaaan karakter ini dapat terlihat jelas di himpunan-himpunan. Karakter yang berbeda ini kemudian melahirkan pula pemikiran-pemikiran yang berbeda pula. Ada yang kritis, ada yang adem ayem, ada yang acuh, apatis, dan sebagainya. Hal yang menjadi masalah adalah ketika himpunan-himpunan yang bersikap kritis, kadang-kadang menjadi krisis. Dengan pemikiran-pemikirannya yang memang kritis (tapi kejauhan, jadi krisis), himpunan-himpunan ini cenderung untuk menarik diri dan menolak keterlibatan diri mereka dalam kemahasiswaan terpusat. Padahal himpunan sendiri merupakan basis massa dari kemahasiswaan terpusat, sehingga mau tidak mau secara langsung ataupun tidak langsung dirinya adalah bagian dari kemahasiswaan terpusat.
Tidak jauh berbeda dengan himpunan, unit-unit kemahasiswaan di ITB pun memiliki sifat-sifat yang berbeda. Hal ini disebabkan karena di ITB ada beberapa rumpun unit yang berlatar belakang beda. Secara garis besar, ada empat rumpun kemahasiswaan unit, yaitu rumpun agama, rumpun olahraga, rumpun kesenian, dan rumpun kajian. Dikarenakan rumpun yang berbeda ini, maka unit-unit ini memiliki kepentingan-kepentingan yang berbeda. Kepentingan-kepentingan ini seringkali hanya berkaitan dengan intern unit itu sendiri, sehingga seakan-akan timbul ego dalam diri unit tersebut . Bahkan ada beberapa unit seakan-seakan bersikap acuh sama sekali terhadap keberadaan kemahasiswaan terpusat. Hal ini terlihat dari keberadaan BKSK yang tidak berjalan dengan efektif. Padahal BKSK dapat menjadi wadah penyalur aspirasi dari teman-teman unit terhadap kemahasiswaan terpusat.
Selain unit dan himpunan yang sepertinya kurang respek terhadap kemahasiswaan terpusat, permasalahan lainnya adalah kurang representatifnya badan legislatif di KM ITB, yaitu Kongres. Permasalahan representatif ini sebenarnya berkaitan erat dengan permasalahan di basis-basis massa sendiri, yaitu permasalahan himpunan. Bagaimana mungkin badan Kongres akan representatif bila banyak himpunan bersikap tidak peduli terhadap kemahasiswaan terpusat.
Tidak cukup dengan permasalahan-permasalahan internal KM ITB sendiri, sekarang bahkan muncul tekanan-tekanan dari “ayah-ayah” kita di pihak rektorat. Pelarangan kegiatan kemahasiswaan, aliran dana kemahasiswaan yang seret dan tidak transparan menjadi bukti bahwa pihak rektorat tidak menyokong dan tidak mendukung kemahasiswaan kita. Mungkin “menjadi robot” tanpa soft skill adalah kata-kata yang tepat untuk mahasiswa versi rektorat. “Robot” yang nanti akan menjadi kuli-kuli pekerja bagi negara-negara asing.
Permasalahan-permasalahan ini tidak akan pernah terselesaikan bila kita terus berkutat dengan permasalahan internal kita sendiri. Lama kelamaan kita akan digilas oleh kegiatan-kegiatan “kerektoratan”. Permasalahan internal tidak akan terselesaikan bila orang-orang yang berkecimpung di kemahasiswaan ITB sendiri tidak punya satu visi yang sama tentang kemahasiswaan. Dengan visi yang sama, diharapkan bahwa tidak akan lagi timbul penolakan-penolakan dan sikap anti kemahasiswaan terpusat. Perlu adanya penyamaan visi tentang kemahasiswaan dari organisasi-organisasi kemahasiswaan itu sendiri. Penyamaan visi ini cukuplah dari tampuk-tampuk pimpinannya saja, dengan harapan massa di organisasinya akan mengikuti. Tanpa adanya penyamaan visi ini, kemahasiswaan (ucapan klise) tidak akan pernah ke arah yang lebih baik.