Archive for August, 2008

What if I would..

Thursday, August 14th, 2008

What if I would had refused to enter ITB?
What if I would had declined to become one of representative to make vision and mission of 2005 on OSKM 2005?
What if I would had not read 5 cm novel?
What if I would had not joined Mahasiswa Berprestasi competition?
What if I would had not became one of candidate chairperson of HMF?
What if I would had pushed away my will to contribute for HMF and refused to help Ikhwan on External Department?
What if I would had rejected an offer to be speaker on LOTR?
What if I would had followed my mom’s order not to join PPSDMS Dormitory?

the answer is: "I will be sorry"

Di atas adalah beberapa langkah yang sampai saat ini kuingat sebagai langkah-langkah yang cukup berani. Langkah yang tetap aku lakukan walaupun aku selalu ketakutan untuk melangkah lagi ke depan dan keluar dari zona nyaman yang selama ini saya ciptakan dalam pikiran saya tersebut.

Jika diperhatikan, kebanyakan dari langkah itu, secara berani, aku lakukan di akhir dua tahun ini. Begitu banyak yang terjadi selama dua tahun ini. Dua tahun yang cukup menegangkan di asrama PPSDMS. Saya sudah menerima banyak, sudah seharusnya saya memberikan yang terbaik dan terbanyak.

Namun, walaupun begitu, masih banyak pula kesempatan yang aku lewatkan karena aku masih terlalu takut untuk meloncat lebih jauh lagi ke depan. Aku masih berlindung dengan status anak tunggalku, aku masih berlindung dengan nama besar ITB, aku masih berlindung di balik nama besar PPSDMS itu sendiri, dan aku masih berlindung di balik jabatan "hanya" ketua bidang (yang paling bertanggung jawab dan mengambil keputusan kan paling utama ketua himpunan). Salah satu contohnya kesempatan yang gagal aku dapatkan itu utama adalah penokohan seorang Devandra Alferi. Masih saja imej yang terbangun adalah Devandra Alferi yang lama, bukan yang sudah ditempa.

Sekali lagi masih banyak yang aku lewatkan selama dua tahun ini. Kemudian pertanyaannya adalah: "Apakah aku masih bisa berkembang setelah asrama ini meninggalkanku?"
[Lagi-lagi aku ketakutan karena kehilangan salah satu zona nyaman yang telah terbentuk dengan sendirnya. Zona tempat aku berlindung di baliknya. Asrama PPSDMS]

Aku sadar bahwa mindset yang diberikan oleh asrama ini bukanlah untuk orang yang memaksa untuk dapat berkembang sendiri. Asrama ini dibangun untuk orang-orang yang dapat berkembang dengan komunitasnya. Semua yang dilakukan di asrama ini hanyalah segelintir bagian dari visi besar kami semua: Membangun peradaban. Bagaimanapun juga, tanpa atau dengan kehadiran asrama ini aku harus bisa melangkah, meloncat, dan melayang ke depan, menuju mimpi indah yang diamanahkan ini. Walaupun kami merupakan Dell, Toshiba, Axioo, dengan serinya yang berbeda-beda, tapi software teman-teman asrama ini haruslah tetap sama: Microsoft.

Semoga cita-cita kami dapat terwujud. Karena yang kami harap adalah terciptanya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat, serta kebaikan dari Allah–Pencipta Alam Semesta.

Sampai jumpa kawan-kawan angkatan III regional II Bandung. Semoga Yang Maha Kuasa meridhoi langkah-langkah kita. Amiin. 

NB:
mohon maaf jika blog ini agak menggelikan bagi teman-teman yang sempat untuk membacanya. Terlalu cengeng untuk seorang pria kan? haha..Namun, tolong tanyakan pada hati kecil teman-teman: "Setelah lulus nanti, visi besar teman-teman untuk anak cucu apa?". Paling tidak saya sudah menyampaikan visi besar saya dan teman-teman saya..yaitu membangun peradaban. Anak cucu saya nanti akan tinggal di Indonesia dan saat peradaban itu berhasil aku buat, tentunya anak cucuku nantinya yang juga akan bahagia. So, buat teman-teman yang ternyata belum memiliki visi besar untuk bangsa ini, adopsilah visi kami. Berjuanglah bersama kami! Jadilah ahli di bidangmu masing-masing! Taklukkan era globalisasi dengan tangan kita! Be a Better Best Person Each Second in your life!!

untitled

Thursday, August 14th, 2008

Malam tadi, ayahku menyampaikan di Kick Andy ada liputan Black Innovation Award tentang barang-barang hasil karya anak muda yang kreatif. Ayahku kemudian (nampaknya) berusaha memotivasi aku untuk pula ikut berkreativitas seperti mereka. Namun, entah kenapa, yang aku tangkap adalah menjelek-jelekan diriku sendiri. Memang sih, Devan yang ga kreatif, tidak punya ide untuk menciptakan barang-barang seperti mereka. Hah…kenapa ya ayah ga pernah mengerti..Anaknya ini ada di Sekolah FARMASI..sebuah sistem pendidikan yang kurasakan sampai saat ini tidak bisa memfasilitasi Devan untuk kreatif.

Tapi, memang tidak bisa disalahkan begitu saja, karena memang Devan sendirilah yang tidak pula berniat untuk bertindak kreatif untuk mencipta. Konsumsi saja yang terpikir di otakku ini. Tidak pernah kupikirkan apakah aku bisa berbuat sesuatu untuk orang lain dengan karya-karyaku..

Seorang teman di asrama pernah bertanya padaku: "Karyamu apa Van?"..
Dan pertanyaan ini aku tidak bisa menjawabnya.  Selama di ITB sepertinya aku jarang sekali berkarya. Tentunya karya yang nyata, yang bisa dimanfaatkan orang lain..jarang..jarang sekali…ya elah…sekali lagi di blog sebelumnya..PRESTASI…paling tidak hal ini yang harus bisa kubuktikan di satu tahun sebelum aku lulus. Aku harus membuktikan pada ayahku bahwa aku pun mampu untuk berkarya seperti mereka di Kick Andy tadi malam.

Anak tunggal itu beban, tapi
itulah motivasiku..
jadi inget nanti aku mati,
apa yang bisa Devandra Alferi tinggalkan?

sumbangkan namaku untuk dicatat dalam sejarah peradaban dunia!!!Amiin.

Fardes, dan apa jadinya bangsa ini

Thursday, August 14th, 2008

fardes, garut desa sindangsari..

kesanku..
rakyat Indonesia gambaran secara umumnya ada di sana..
anak-anak jarang yang pergi sekolah, orang-orang tua yang tidak bervisi tertentu untuk keluarga mereka..hanya melakukan saja apa yang orang tua mereka lakukan sebelumnya..dan kemudian..kawin.ini yang utama..

di rumahku, seorang Ibu menikah pada umur 11 tahun, dan suaminya pada saat itu berusia 18 tahun…Ya Allah…mau jadi apa bangsa ini saat rakyatnya pun masih bingung dan tidak tahu harus melakukan apa..

pemimpin-pemimpin hebat memang diperlukan di setiap daerah, termasuk di desa-desa…pemimpin yang mampu menyadarkan warganya untuk bervisi..minimal untuk keluarganya sendiri..

Ibu dan Bapak RW 5
Mereka sangat hangat..ke kami mereka menganggap kami adalah anak mereka sendiri yang selalu menemani mereka. Mereka seakan tidak peduli akan kelakukan kekanak-kanakan kami, kenakalan kami, bahkan kemalasan kami di rumah. Mereka sangat rajin bekerja. Walaupun sekali lagi, tidak ada visi nampaknya..Kalau aku diberi kesempatan rejeki, ingin sekal aku memiliki peternakan sapi di sana dengan visi "Go International and Recognized in 100 Countries of the World"…langkah pertama adalah (misi pertama adalah membangun jaringan internet)…ingin sekali menyampaikan pikiran ini pada mereka..tapi apa daya..aku sangat takut menyampaikannya..

mahasiswa hanya pelajar..bukan untuk mengajari dan sok tahu..

takut sekali aku dianggap seperti itu….

harapan warga akan mahasiwa..
saat kami akan perpisahan malam itu di madrasah, sangat terlihat besar sekali harapan mereka akan kami para mahasiswa.mereka sama sekali tidak mau tahu kalau kami dari farmasi..mereka hanya tahu bahwa kami memiliki kesempatan lebih besar daripada mereka..kami ada di kota, dan mereka ada di desa..itu saja yang mereka tahu,,bahkan mereka sama sekali tidak mau tahu menahu akan nama besar "ITB"..atau bahkan..ITB sudah tidak besar sama sekali..toh rakyat Indonesia saja tidak tahu ITB,,apalagi luar negeri..di Belanda temanku pernah pertukaran pelajar…dan orang-orang di sana sama sekali tidak tahu bahwa ada yang namanya ITB di deket Bali (karena mereka juga tidak tahu sama sekali bahwa Bali adalah bagian dari Indonesia)…

pertanyaan..
mau dibawa ke mana bangsa ini nantinya..saat pemerintah disalahkan terus menerus, dan rakyat hanya suka kawin dan kawin..yang tidak bisa disalahkan juga sebenarnya..karena itulah budaya mereka…
mau diapakan bangsa ini untuk sejahtera,,saat para calon pemimpinnya beradu mulut saja di televisi, dan hanya mengurusi kotanya..bukan pelosok pelosok daerah, dimana rakya sebenarnya berada..
mau apa bangsa ini saat pemimpin terpilih adalah pemimpin yang pernah didemo karena korupsinya..
bahkan..
mau apa bangsa ini..saat Pilkada dianggap sebagai ajang populer di jagad Indonesia saat ini..padahal Pilkada adalah ajang penghambur-hamburan uang..

bangsa ini memang aneh..dan aku tidak punya solusi cerdas, lugas, dan pas…
aku, Devandra Alferi…memang aneh..kuliah di ITB..tapi tidak tahu harus berbuat apa..

jika kalian merasakan hal yang sama…atau hanya menganggap bahwa "lakukan aja yang terbaik…belajar rajin…kerja…kaya…sumbangin ama rakyat..beres.."..berarti kalian juga aneh..karena solusi yang cerdas, lugas, dan pas adalah saat kita berhasil membuat orang-orang ikut tergerak untuk memajukan bangsa ini..karena kita Indonesia!!

PPSDMS Award

Friday, August 1st, 2008

Akhirnya ada pengumuman tentang kandidat PPSDMS Award

dan namaku tak ada di dalamnya..haha..dasar devan..orang yang cuma nyampah di asrama..

Ya, buat tman-teman yang ada di sana..tolong bawa nama regional kita..semoga teman-teman bisa mengharumkan nama regional 2 kita ini..regional yang termasuk paling sedikit mahasiswanya yang berprestasi..haha..termasuk saya kan ya? haha

Will miss you..

See you on the next 20 years on private sectors, entepreneur, or third sectors to build our beloved country..

"betapa inginnya kami agar bangsa ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri"

Regard,

Devan