Fardes, dan apa jadinya bangsa ini

fardes, garut desa sindangsari..

kesanku..
rakyat Indonesia gambaran secara umumnya ada di sana..
anak-anak jarang yang pergi sekolah, orang-orang tua yang tidak bervisi tertentu untuk keluarga mereka..hanya melakukan saja apa yang orang tua mereka lakukan sebelumnya..dan kemudian..kawin.ini yang utama..

di rumahku, seorang Ibu menikah pada umur 11 tahun, dan suaminya pada saat itu berusia 18 tahun…Ya Allah…mau jadi apa bangsa ini saat rakyatnya pun masih bingung dan tidak tahu harus melakukan apa..

pemimpin-pemimpin hebat memang diperlukan di setiap daerah, termasuk di desa-desa…pemimpin yang mampu menyadarkan warganya untuk bervisi..minimal untuk keluarganya sendiri..

Ibu dan Bapak RW 5
Mereka sangat hangat..ke kami mereka menganggap kami adalah anak mereka sendiri yang selalu menemani mereka. Mereka seakan tidak peduli akan kelakukan kekanak-kanakan kami, kenakalan kami, bahkan kemalasan kami di rumah. Mereka sangat rajin bekerja. Walaupun sekali lagi, tidak ada visi nampaknya..Kalau aku diberi kesempatan rejeki, ingin sekal aku memiliki peternakan sapi di sana dengan visi "Go International and Recognized in 100 Countries of the World"…langkah pertama adalah (misi pertama adalah membangun jaringan internet)…ingin sekali menyampaikan pikiran ini pada mereka..tapi apa daya..aku sangat takut menyampaikannya..

mahasiswa hanya pelajar..bukan untuk mengajari dan sok tahu..

takut sekali aku dianggap seperti itu….

harapan warga akan mahasiwa..
saat kami akan perpisahan malam itu di madrasah, sangat terlihat besar sekali harapan mereka akan kami para mahasiswa.mereka sama sekali tidak mau tahu kalau kami dari farmasi..mereka hanya tahu bahwa kami memiliki kesempatan lebih besar daripada mereka..kami ada di kota, dan mereka ada di desa..itu saja yang mereka tahu,,bahkan mereka sama sekali tidak mau tahu menahu akan nama besar "ITB"..atau bahkan..ITB sudah tidak besar sama sekali..toh rakyat Indonesia saja tidak tahu ITB,,apalagi luar negeri..di Belanda temanku pernah pertukaran pelajar…dan orang-orang di sana sama sekali tidak tahu bahwa ada yang namanya ITB di deket Bali (karena mereka juga tidak tahu sama sekali bahwa Bali adalah bagian dari Indonesia)…

pertanyaan..
mau dibawa ke mana bangsa ini nantinya..saat pemerintah disalahkan terus menerus, dan rakyat hanya suka kawin dan kawin..yang tidak bisa disalahkan juga sebenarnya..karena itulah budaya mereka…
mau diapakan bangsa ini untuk sejahtera,,saat para calon pemimpinnya beradu mulut saja di televisi, dan hanya mengurusi kotanya..bukan pelosok pelosok daerah, dimana rakya sebenarnya berada..
mau apa bangsa ini saat pemimpin terpilih adalah pemimpin yang pernah didemo karena korupsinya..
bahkan..
mau apa bangsa ini..saat Pilkada dianggap sebagai ajang populer di jagad Indonesia saat ini..padahal Pilkada adalah ajang penghambur-hamburan uang..

bangsa ini memang aneh..dan aku tidak punya solusi cerdas, lugas, dan pas…
aku, Devandra Alferi…memang aneh..kuliah di ITB..tapi tidak tahu harus berbuat apa..

jika kalian merasakan hal yang sama…atau hanya menganggap bahwa "lakukan aja yang terbaik…belajar rajin…kerja…kaya…sumbangin ama rakyat..beres.."..berarti kalian juga aneh..karena solusi yang cerdas, lugas, dan pas adalah saat kita berhasil membuat orang-orang ikut tergerak untuk memajukan bangsa ini..karena kita Indonesia!!

One Response to “Fardes, dan apa jadinya bangsa ini”

  1. RESTY Says:

    jadi,
    fardes kemaren sebagai awal dari gerakan atau sebagai pembangun kesadaran pan?
    tapi dua pilihan itu awal yang bagus.. walaupoun belom gerak, seengganya jadi nyadar..
    pan, blog lo jangan ampe diapus ya..
    kita liat lagi ntar 10 taun yang akan datang.. pembuktian apakah keidealan itu masih ada atau udah luntur.. hehe..

Leave a Reply