What if I would..

What if I would had refused to enter ITB?
What if I would had declined to become one of representative to make vision and mission of 2005 on OSKM 2005?
What if I would had not read 5 cm novel?
What if I would had not joined Mahasiswa Berprestasi competition?
What if I would had not became one of candidate chairperson of HMF?
What if I would had pushed away my will to contribute for HMF and refused to help Ikhwan on External Department?
What if I would had rejected an offer to be speaker on LOTR?
What if I would had followed my mom’s order not to join PPSDMS Dormitory?

the answer is: "I will be sorry"

Di atas adalah beberapa langkah yang sampai saat ini kuingat sebagai langkah-langkah yang cukup berani. Langkah yang tetap aku lakukan walaupun aku selalu ketakutan untuk melangkah lagi ke depan dan keluar dari zona nyaman yang selama ini saya ciptakan dalam pikiran saya tersebut.

Jika diperhatikan, kebanyakan dari langkah itu, secara berani, aku lakukan di akhir dua tahun ini. Begitu banyak yang terjadi selama dua tahun ini. Dua tahun yang cukup menegangkan di asrama PPSDMS. Saya sudah menerima banyak, sudah seharusnya saya memberikan yang terbaik dan terbanyak.

Namun, walaupun begitu, masih banyak pula kesempatan yang aku lewatkan karena aku masih terlalu takut untuk meloncat lebih jauh lagi ke depan. Aku masih berlindung dengan status anak tunggalku, aku masih berlindung dengan nama besar ITB, aku masih berlindung di balik nama besar PPSDMS itu sendiri, dan aku masih berlindung di balik jabatan "hanya" ketua bidang (yang paling bertanggung jawab dan mengambil keputusan kan paling utama ketua himpunan). Salah satu contohnya kesempatan yang gagal aku dapatkan itu utama adalah penokohan seorang Devandra Alferi. Masih saja imej yang terbangun adalah Devandra Alferi yang lama, bukan yang sudah ditempa.

Sekali lagi masih banyak yang aku lewatkan selama dua tahun ini. Kemudian pertanyaannya adalah: "Apakah aku masih bisa berkembang setelah asrama ini meninggalkanku?"
[Lagi-lagi aku ketakutan karena kehilangan salah satu zona nyaman yang telah terbentuk dengan sendirnya. Zona tempat aku berlindung di baliknya. Asrama PPSDMS]

Aku sadar bahwa mindset yang diberikan oleh asrama ini bukanlah untuk orang yang memaksa untuk dapat berkembang sendiri. Asrama ini dibangun untuk orang-orang yang dapat berkembang dengan komunitasnya. Semua yang dilakukan di asrama ini hanyalah segelintir bagian dari visi besar kami semua: Membangun peradaban. Bagaimanapun juga, tanpa atau dengan kehadiran asrama ini aku harus bisa melangkah, meloncat, dan melayang ke depan, menuju mimpi indah yang diamanahkan ini. Walaupun kami merupakan Dell, Toshiba, Axioo, dengan serinya yang berbeda-beda, tapi software teman-teman asrama ini haruslah tetap sama: Microsoft.

Semoga cita-cita kami dapat terwujud. Karena yang kami harap adalah terciptanya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat, serta kebaikan dari Allah–Pencipta Alam Semesta.

Sampai jumpa kawan-kawan angkatan III regional II Bandung. Semoga Yang Maha Kuasa meridhoi langkah-langkah kita. Amiin. 

NB:
mohon maaf jika blog ini agak menggelikan bagi teman-teman yang sempat untuk membacanya. Terlalu cengeng untuk seorang pria kan? haha..Namun, tolong tanyakan pada hati kecil teman-teman: "Setelah lulus nanti, visi besar teman-teman untuk anak cucu apa?". Paling tidak saya sudah menyampaikan visi besar saya dan teman-teman saya..yaitu membangun peradaban. Anak cucu saya nanti akan tinggal di Indonesia dan saat peradaban itu berhasil aku buat, tentunya anak cucuku nantinya yang juga akan bahagia. So, buat teman-teman yang ternyata belum memiliki visi besar untuk bangsa ini, adopsilah visi kami. Berjuanglah bersama kami! Jadilah ahli di bidangmu masing-masing! Taklukkan era globalisasi dengan tangan kita! Be a Better Best Person Each Second in your life!!

2 Responses to “What if I would..”

  1. Wina Says:

    hehehe,,,
    dasar si devan,
    melo abizzz…
    hmm, ngerasa selalu nggak puas si emang wajar terjadi dengan diri manusia, soalnya memang udah fitrahnya..
    semangka!
    ck,,,ck,,,
    ternyata emang benar ya,
    ilmu padi, makin tua makin merunduk,
    ya kayak salah satu temanku ini,
    devandra alferi…

  2. RESTY Says:

    pan, lo tau apa yang pertama kali ada di otak gue pas baca yang ini??

    “Wauw! Adek epan, adeknya echi udah DEWASA!”

    Kenapa? karena menurut gue, definisi dewasa adalah ketika lo tau apa yang pengen lo buat di masa depan..
    Berani buat ambil keputusan tidak berjalan di main-stream.. Menjadi beda dari yang lain karna lo udah punya tujuan akhir lo sendiri..

    Hahhahaa.. dan dari tulisan ini gue bisa ngeliat itu smua..

    Seperti kata Prof. Morrie (dengan kata-kata ala gue tentunya; lo tau sendiri gue pelupa ;p) : Untuk tau cara menjalani hidup, kamu harus tau tentang kematian..

Leave a Reply